Bahaya Kolateral Gunung Semeru
Bahaya Kolateral Gunung Semeru
Media Name :
Kompas
Publish Date :
Tuesday, 07 December 2021
News Type :
Article
Section/Rubrication :
Humaniora
News Page :
8
News Size :
1,750 mmk
News Placement :
Front Cover Page
News URL :
-
Journalists :
Ahmad Arif
Mindshare :
Regulator
Tonality :
Neutral
Topic :
Gunung Semeru
Ads Value :
376,250,000
PR Value :
1,128,750,000
Media Score :
-
Media Tier :
-
Resources
  1. Abdul Muhari - Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB
  2. Kristianto - Koordinator Kelompok Mitigasi Gunung Api Badan Geologi PVMBG
  3. Andiani - Kepala PVMBG Badan Geologi, Kementerian ESDM
Erupsi Gunung Semeru bersamaan dengan hujan lebat mengikis tumpukan material di sekitar mulut katuah, memicu aman panas guguran dan banjir lahar gang tak dapat diantisipasi. Bencana alam itu menimbulkan bangak korban.

Erupsi Gunung Semeni pada Sabtu (4/12/2021) tak didahului kegempaan kuat, yang biasanya menandai akan terjadi letusan magmatis besar, sehingga tak ada kenaikan status bahaya dan peringatan dini. Namun, erupsi bersamaan dengan hujan lebat ini mengikis tumpukan material di sekitar mulut kawah. memicu awan panas guguran dan banjir lahar yang tak terantisipasi.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Senin (6/12) pukul 17.30, bencana ini mengakibatkan 22 orang meninggal. "Korban di Kecamatan Pronojiwo 14 orang, di Kecamatan Candipuro 8 orang,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari saat jumpa pers daring.

Selain itu, 27 korban hilang. Korban meninggal terutama terjadi di Dusun Renteng Desa Sumber Wuluh, Candipuro, dan Desa Curah Kobokan, Pronojiwo, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Sejumlah korban ditemukan terkubur di rumah, korban lain di sekitar sungai.

Jumlah total warga terdampak langsung guguran awan panas dan abu vulkanik 5.205 orang di delapan kecamatan. Adapun jumlah pengungsi di 19 lokasi mencapai 2.004 jiwa.

Tanpa peringatan

Gunung Semeni berulang kali erupsi, termasuk awal Desember 2020. dengan guguran awan panas hingga 11 kilometer. Letusan saat itu tak memicu dampak sebesar kali ini.

Gunung ini juga berstatus Waspada atau level 2 sejak Mei 2012, sembilan tahun silam. Dengan status ini, rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi ialah warga tak beraktivitas di radius 1 km dari puncak Semeru dan 5 km arah bukaan kawali di sektor tenggara-selatan. Warga perlu mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di aliran sungai atau lembah berhulu di puncak Semeni.

Dalam status Waspada, Semeru setinggi 3.676 meter dari permukaan laut atau tertinggi di Jawa ini menelan banyak korban. "Letusan kali ini tak didahului peringatan dini atau kenaikan status gunung. Status Semeru Waspada dan warga beraktivitas seperti biasa,” kata Maryanto (42), anggota Kobar Semeru, kelompok sukarelawan di Pasru Jambi, Kecamatan Pasru Jambi, Lumajang, 6 km dari Desa Curah Kobokan, yang terdampak paling parah.

Maryanto menuturkan, warga sekitar lereng Semeru sudah membentuk tim siaga desa dan pemantau aliran sungai untuk antisipasi bahaya. "Namun, saat kejadian tak ada tanda-tanda, tidak terasa getaran gempa bumi," katanya.

Kepala PVMBG Badan Geologi Andiani, Minggu, mengatakan, status Semeni tetap Waspada karena sebelum erupsi tak ada tanda kenaikan signifikan aktivitas gunung ini.

Koordinator Kelompok Mitigasi Gunung Api PVMBG Kristianto menjelaskan, tak adanya kenaikan jumlah dan jenis gempa sebelum erupsi menunjukkan tak ada suplai magma ke permukaan. Selain pemantauan gempa, Semeru dipantau memakai interferometric synthetic aperture radar (InSAR) berdasarkan data satelit radar Sentinel. tetapi di Semeru tidak ada electronic distance measurement (EDM) untuk memantau deformasi.

"Data satelit, sejak Agustus ada inflasi (penggembungan) gunung. Ini tak diimbangi kenaikan kegempaan," ujarnya.

Pada 1-30 November 2021, jumlah dan jenis gempa terekam di Semeru didominasi gempa permukaan, di antaranya gempa letusan 50 kejadian per hari. Gempa guguran pada 1 dan 3 Desember 2021 turun, masing-masing empat kali.

Gempa-gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal, dan tremor, yang mengindikasikan kenaikan magma ke permukaan. terekam berjumlah amat rendah. Ini membuat PVMBG tak beranggapan Semeni bakal erupsi besar.

Dengan parameter ini, ancaman erupsi Semeru lebih berupa lontaran batuan pijar di sekitar puncak. Pukul 14.50, erupsi terekam di seismograf Pos Pemantauan Semeru dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 5.160 detik. Dibandingkan erupsi tahun 2020, menurut Kristianto, kekuatan erupsi kali ini relatif sama dengan jangkauan awan panas guguran sama, sekitar 11 km dari puncak.

Bahaya sekunder

Ahli vulkanologi Institut Teknologi Bandung, Mirzam Abdurrachman, menjelaskan, ada tiga faktor penyebab gunung api meletus. Pertama, volume di dapur magmanya penuh. Kedua, ada longsoran di dapur magma akibat pengkristalan magma. Ketiga, ada aktivitas di atas dapur magma.

Faktor ketiga ini kemungkinan terjadi di Semeru. Saat curah hujan tinggi, abu vulkanik di puncak gunung terkikis air sehingga gunung kehilangan beban, lalu erupsi. Akibatnya. warga tak merasakan gempa, tetapi itu bisa terekam di alat PVMBG.

Geolog dan Direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan, erupsi Semeru bersamaan dengan hujan ini meruntuhkan bekas material letusan yang tertumpuk di dekat mulut kawah dan menggelinding jadi banjir lahar lewat sungai.

Awan panas guguran yang melanda desa-desa di Semeni ini termasuk awan panas sekunder. Itu beda dengan aliran awan panas Gunung Merapi yang terbentuk dari runtuhnya kubah saat letusan pada 2010.

"Awan panas primer di Merapi lebih panas dan merusak. Sementara awan panas sekunder, suhu dan tekanannya lebih rendah. Ini menyebabkan rumah-rumah rusak di Semeni tak ada bekas hangus terbakar,” katanya.

Awan panas guguran yang terbawa angin di Semeru mematikan karena air hujan menambah berat jenisnya. Atap rumah warga yang tertimbun abu campur air hujan runtuh dan menimbun penghuninya.

Banjir lahar di Semeru merupakan bahaya sekunder akibat hujan. Namun, aliran lahar jadi panas karena bercampur material erupsi, lalu merobohkan sejumlah jembatan.

Kristianto memaparkan, sistem mitigasi gunung api belum memperhitungkan bahaya kolateral atau bahaya lain yang dipicu letusan gunung api jika erupsi bersamaan dengan hujan lebat. Level status gunung api lebih ditentukan ancaman erupsi primer.

Jika mengacu pada status bahaya gunung api yang ditentukan PVMBG Badan Geologi, status waspada atau level 2 adalah jika gunung api meningkat aktivitasnya. Pada beberapa gunung api bisa terjadi erupsi, tetapi ancaman erupsi hanya di sekitar kawah.

Sementara level 3 atau Siaga jika ancaman bahaya erupsi bisa meluas, tetapi tak mengancam permukiman. Level 4 atau Awas jika ancaman bahaya erupsi meluas dan mengancam permukiman.

Faktanya, erupsi kali ini melanda hingga ke permukiman warga sehingga penentuan level bahaya gunung api perlu dikoreksi. "Pelajaran pentingnya, mitigasi bencana gunung api seperti Semeru hanis memperhitungkan bahaya primer dan sekunder yang bisa terjadi beriringan. Ini luput kita siapkan,” kata Eko.